Entri Populer

Rabu, 27 Februari 2013

SISI DIMANA AKU SELALU MERASA NYAMAN

Kamu meninggalkan sisi itu
Sisi dimana aku selalu merasa nyaman
Ya,aku tak bisa membiarkan nya
Membiarkan kamu keluar dari sisi itu
Sisi yang selalu ingin kulihat
Beri aku alasan
Alasan kau menjauh dari sisi itu
Alasan agar aku rela melihat sisi itu pergi
Alasan yang akan membuatku bahagia
Terlalu banyak alasan mungkin ?
Aku tak butuh alasan itu
Aku hanya ingin kamu ada disisi itu menemaniku
Datang lah padaku
Jika kamu sedang merasa ketakutan
kamu akan mulai merasa nyaman
ketika kamu mulai memberi kepercayaan pada sisi itu lagi

Sabtu, 07 April 2012

Sebuah Ruang Bernama Keheningan

Pada pepohonan merunduk
tersimpan kisah tentang angin
hujan panas dan unggas
patah sayap di sisi hari
Awan mendadak
tersibak matahari

Kalau ada yang berharga dari kehidupan
Maka itu adalah dedaunan
Menjulur setia pada cahaya
Menyerahkan diri tanpa kata-kata
Sebab musim tak bisa berbuat lain
Selagi udara menggenang cuaca mengambang
Mengembalikan pepohonan kepada tidur
Pada mata kampak dan maut segenap penjuru

Maka seluruh pepohonan bergetar
Melabuhkan butir demi butir air mata
Kisah-kisah yang menebalkan duka
Sebelum jarak menyimpan rahasia kematian
Di sebuah ruang bernama keheningan

Rabu, 04 April 2012

SURAT UNTUK SAHABAT

Sahabatku,
Mungkin mulut tak dapat menyapamu,
mungkin kata tidak terangkai khusus untukmu,
dan pasti tangan tak bisa berjabat dan mata tak dapat saling memandang.
Akan tetapi, kuyakinkan engkau akan satu hal ini;
Tidak membalasmu bukan berarti tidak membaca goresan hatimu dalam tulisanmu. Kadang aku membiarkan engkau untuk mengambil sendiri mutiara di dalam kulit kerangnya yang keras dan tajam, daging manis durian yang terbungkus dengan kulitnya yang berduri, dan menimbah sendiri air kehidupan dari Sumber Kehidupan itu.
Karena itu, kalaupun aku lupa untuk menyapa dan membalasmu, maka percayalah bahwa saat itulah Tuhan akan menggantikan aku di sisimu sebagai seorang sahabat.

Jumat, 16 Maret 2012

-keras sekali takdir kita di dunia yang busuk ini-

aku membenci dunia dan sekutu-sekutunya
menelantarkanku begitu saja
pada hidup yang begitu-begitu saja
sesekali kami berdamai juga
sebab kebencian tidak terletak
pada soal maaf-memaafkan
tetapi untuk kesempatan dan kesempatan
yang kumiliki saat ini hanyalah
kesadaran bahwa aku tak sedang memiliki
maka biarkanlah aku pulang
melepas segala kelana
sejenak dari tubuhku.

Selasa, 28 Februari 2012

KAU SEMBUNYI DARI MATA-TELINGAKU

inilah kematianmu; kau sembunyi dari sepasang mataku
menguji seberapa panjang bentang ingatan di kepalaku
tentang percakapan magrib itu; percakapan tentang perempuan
yang kau cintai, namun tak mampu kau katakan padanya, kecuali
pada selembar gambarnya yang kau selip di buku harianmu.
inilah kematianmu; kau sembunyi dari sepasang telingaku
menguji seberapa lama getar-getar suaramu bergema
tentang sebuah tengah malam; kau tiba-tiba terbangun dari tidur
dan tertawa lepas keras-keras menganggap dirimu lucu
lalu memelukku sambil menangis seperti anak kecil yang besar.

DI MANAKAH GERANGAN BERMULA

WAKTU kanak-kanak dulu aku selalu bertanya-tanya
di manakah gerangan bermula jalan bercecabang itu.
Lalu seorang lelaki tua di paragraf pertama novelnya
menyimpan sebuah jawaban buat rasa penasaranku.
“Jalan-jalan diciptakan dari sekelok sungai,” katanya.
Aku percaya setiap rasa penasaran mengandung bahaya.
Jawaban itu kemudian membawaku ke pertanyaan baru.
Di mana bermula sungai yang melahirkan jalan-jalan itu?
Seorang gadis, dengan tangis, menjawab pertanyaanku.
“Sungai diciptakan dari sepasang mata,” katanya lalu pergi.
Pertanyaan tak pernah mau habis. Selanjutnya tentang mata.
Tetapi siapakah yang bisa menjawabnya? Gadis itu tiada lagi.
Maka aku menangis berharap mampu menemukan jawaban
dari mataku sendiri. Tetapi yang terjadi adalah airmataku
hanya melahirkan ribuan kelokan sungai yang melahirkan
jutaan cabang jalan. Dan asal mula mata tetap pertanyaan.
Setiap rasa penasaran memanglah mengandung bahaya.
Maka aku berdiri, berjalan, berlari mencari sendiri gadis itu,
gadis yang pernah memberi jawaban dan harapan padaku,
harapan yang pelan-pelan mengekal menjadi kehilangan.
Seluruh cabang-cabang jalan telah aku lewati, tetapi tidak
kutemukan cabang jalan mana yang menyembunyikannya.
Maka aku kembali menangis. Dan mataku menciptakan sungai.
Dan sungai itu menciptakan cabang-cabang jalan. Dan cabang-
cabang jalan itu menciptakan kehilangan. Dan kehilangan itu
membuat aku menangis. Dan mataku kembali menciptakan
sungai baru. Dan sungai baru itu menciptakan cabang-cabang
jalan baru. Dan cabang-cabang jalan baru itu menciptakan
kehilangan baru. Dan kehilangan baru itu membuat aku sekali
lagi menangis. Dan mataku sekali lagi menciptakan sungai baru.
Dan sungai baru itu sekali lagi menciptakan cabang-cabang jalan
baru. Dan cabang-cabang jalan itu sekali lagi menciptakan kehilangan
baru. Dan kehilangan baru itu sekali lagi membuat aku kembali
menangis. Dan seterusnya, dan seterusnya…