Entri Populer

Sabtu, 07 April 2012

Sebuah Ruang Bernama Keheningan

Pada pepohonan merunduk
tersimpan kisah tentang angin
hujan panas dan unggas
patah sayap di sisi hari
Awan mendadak
tersibak matahari

Kalau ada yang berharga dari kehidupan
Maka itu adalah dedaunan
Menjulur setia pada cahaya
Menyerahkan diri tanpa kata-kata
Sebab musim tak bisa berbuat lain
Selagi udara menggenang cuaca mengambang
Mengembalikan pepohonan kepada tidur
Pada mata kampak dan maut segenap penjuru

Maka seluruh pepohonan bergetar
Melabuhkan butir demi butir air mata
Kisah-kisah yang menebalkan duka
Sebelum jarak menyimpan rahasia kematian
Di sebuah ruang bernama keheningan

Rabu, 04 April 2012

SURAT UNTUK SAHABAT

Sahabatku,
Mungkin mulut tak dapat menyapamu,
mungkin kata tidak terangkai khusus untukmu,
dan pasti tangan tak bisa berjabat dan mata tak dapat saling memandang.
Akan tetapi, kuyakinkan engkau akan satu hal ini;
Tidak membalasmu bukan berarti tidak membaca goresan hatimu dalam tulisanmu. Kadang aku membiarkan engkau untuk mengambil sendiri mutiara di dalam kulit kerangnya yang keras dan tajam, daging manis durian yang terbungkus dengan kulitnya yang berduri, dan menimbah sendiri air kehidupan dari Sumber Kehidupan itu.
Karena itu, kalaupun aku lupa untuk menyapa dan membalasmu, maka percayalah bahwa saat itulah Tuhan akan menggantikan aku di sisimu sebagai seorang sahabat.

Jumat, 16 Maret 2012

-keras sekali takdir kita di dunia yang busuk ini-

aku membenci dunia dan sekutu-sekutunya
menelantarkanku begitu saja
pada hidup yang begitu-begitu saja
sesekali kami berdamai juga
sebab kebencian tidak terletak
pada soal maaf-memaafkan
tetapi untuk kesempatan dan kesempatan
yang kumiliki saat ini hanyalah
kesadaran bahwa aku tak sedang memiliki
maka biarkanlah aku pulang
melepas segala kelana
sejenak dari tubuhku.

Selasa, 28 Februari 2012

KAU SEMBUNYI DARI MATA-TELINGAKU

inilah kematianmu; kau sembunyi dari sepasang mataku
menguji seberapa panjang bentang ingatan di kepalaku
tentang percakapan magrib itu; percakapan tentang perempuan
yang kau cintai, namun tak mampu kau katakan padanya, kecuali
pada selembar gambarnya yang kau selip di buku harianmu.
inilah kematianmu; kau sembunyi dari sepasang telingaku
menguji seberapa lama getar-getar suaramu bergema
tentang sebuah tengah malam; kau tiba-tiba terbangun dari tidur
dan tertawa lepas keras-keras menganggap dirimu lucu
lalu memelukku sambil menangis seperti anak kecil yang besar.

DI MANAKAH GERANGAN BERMULA

WAKTU kanak-kanak dulu aku selalu bertanya-tanya
di manakah gerangan bermula jalan bercecabang itu.
Lalu seorang lelaki tua di paragraf pertama novelnya
menyimpan sebuah jawaban buat rasa penasaranku.
“Jalan-jalan diciptakan dari sekelok sungai,” katanya.
Aku percaya setiap rasa penasaran mengandung bahaya.
Jawaban itu kemudian membawaku ke pertanyaan baru.
Di mana bermula sungai yang melahirkan jalan-jalan itu?
Seorang gadis, dengan tangis, menjawab pertanyaanku.
“Sungai diciptakan dari sepasang mata,” katanya lalu pergi.
Pertanyaan tak pernah mau habis. Selanjutnya tentang mata.
Tetapi siapakah yang bisa menjawabnya? Gadis itu tiada lagi.
Maka aku menangis berharap mampu menemukan jawaban
dari mataku sendiri. Tetapi yang terjadi adalah airmataku
hanya melahirkan ribuan kelokan sungai yang melahirkan
jutaan cabang jalan. Dan asal mula mata tetap pertanyaan.
Setiap rasa penasaran memanglah mengandung bahaya.
Maka aku berdiri, berjalan, berlari mencari sendiri gadis itu,
gadis yang pernah memberi jawaban dan harapan padaku,
harapan yang pelan-pelan mengekal menjadi kehilangan.
Seluruh cabang-cabang jalan telah aku lewati, tetapi tidak
kutemukan cabang jalan mana yang menyembunyikannya.
Maka aku kembali menangis. Dan mataku menciptakan sungai.
Dan sungai itu menciptakan cabang-cabang jalan. Dan cabang-
cabang jalan itu menciptakan kehilangan. Dan kehilangan itu
membuat aku menangis. Dan mataku kembali menciptakan
sungai baru. Dan sungai baru itu menciptakan cabang-cabang
jalan baru. Dan cabang-cabang jalan baru itu menciptakan
kehilangan baru. Dan kehilangan baru itu membuat aku sekali
lagi menangis. Dan mataku sekali lagi menciptakan sungai baru.
Dan sungai baru itu sekali lagi menciptakan cabang-cabang jalan
baru. Dan cabang-cabang jalan itu sekali lagi menciptakan kehilangan
baru. Dan kehilangan baru itu sekali lagi membuat aku kembali
menangis. Dan seterusnya, dan seterusnya…

BERSAMA MARIE SOFIE DI SEBUAH DESA



Marie Sofie, sejenak lupakan saja bahasa Prancis
yang susah mengalir di bibir orang-orang Bugis
Akan kuajari kau beberapa kata,
mereka bicara dengan bahasa
masa kecilku yang sederhana
“Oui, merci.”
Marie Sofie, merci n’est pas buginese.
Terima kasih bukan di lidah tapi di mata
Jika mereka menyuguhimu secangkir teh
reguk manisnya dan tersenyumlah
sebagai batang-batang tebu tua
itulah terima kasih yang mereka ketahui
Bertamulah seperti anaknya baru pulang rantau
mereka tak menunggu buah tangan darimu
atau kenang-kenangan saat kau tinggalkan
Tak perlu berjanji kapan-kapan akan datang
mereka yakin penuh engkau akan pulang
seperti nasi dan sayur mereka hilang
seluruh kau simpan dalam kenang.