Entri Populer

Selasa, 28 Februari 2012

MENGENANG

kini aku ada di sisi tidurmu
ingin bertanya satu rahasia
apakah kau suka berjalan
sambil tidur?
kau datang setiap malam
menemaniku berbincang
tetapi matamu terpejam

KENYATAAN


(Awal dari perjalanan seakan aku menjadi bayi yang lahir tanpa irama)
Aku membawa tubuh ringkih seperti pohon yang sebentar lagi tumbang
Atau seperti gamelan air yang hilang di tepi pagi
Di tepi pagi yang akrab dengan disentri
Telah hilang dongeng Ibu,.
Atau kelembutan tangan nenek untuk mencari kutu
Begitu aku kehilangan semua kenangan
Kehilangan semua yang aku cintai
Ringkih tubuh adalah perjalanan mencari kearipan
Sebelum tenggelam dan hilang

Resah..


"Aku terlahir kembali di pagi nanti
Merintis kembali sebuah harap yang pernah tertunda
Karena gelapnya malam, yang membuatku terdiam lama
Dalam sebuah angan,.
Angan-angan yang selalu mendahului kenyataan
Bahkan sampai nyaris kalahkan logika
yang seharusnya tertuang nyata dalam sebuah ikatan

Kini malamku pun seperti layaknya persidangan
selalu bergelut dengan rasa yang menggebu
Mungkin tepatnya bukan sebuah persidangan lagi
Karena dasarnya pun tak jelas,.
Hanya sebuah sebuah dilema atau kebimbangan saja
Tentang benar dan salah, atau perbedaan rasa yang ada
Antara ketulusan atau hanya nafsu belaka...

Minggu, 12 Februari 2012

CINTA DAN PAYUNG  DIKALA HUJAN

Tidak terasa hidup menggiring langkah rapuh ku tersudut dalam kelemahan. Kawan, bila kalian pernah berfikir ada seseorang yang mampu bertahan dan setia dalam ketidak berdayaan pantaslah kalian menatap diriku. Dan bila kalian berfikir kenapa aku begini?? Aku sendiripun tidak pernah menyalahkan hidup. Hanya mungkin kesempatan yang tidak ku miliki. Payung-payung ku ini yang menuntun kemana hidup ku, kepada siapa ku mengais rupiah-rupiah receh yang tidak lebih jauh dari 10 kilometer dari istana kardus di sela-sela hiruk pikuk nafas metropolitan.
Aku fikir ini pertama kalinya aku merasa kehilangan dalam hidup. Friska, wanita itu menatap mata ku penuh rasa ingin tahu. Sudah lama aku tidak bertemu dan dia tidak menggunakan jasa payung ku, lama sekali. Pada hal aku telah membeli payung berwana merah muda khusus untuk dia gunakan. Dalam detik yang lebih cepat dari detik lainnya, apa yang ia ingin tahu dari lorong gelap tidak berpenghuni dan berbenda menarik dalam mata ku. Aku terlalu bodoh untuk itu, kawan. Bila mungkin kalian berada disana saat itu, mungkin sudikah kalian menerjemahkannya kepada ku.
“Sudah berapa lama kerja beginian??”
Akhhh!!! Pertanyaan itu selalu mengundah rasa rindu terlebih penasaran dalam pikiran ku?! Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa dia sampai mampu bertanya seperti itu. Hanya lelaki bodoh yang tidak merindukan paras cantiknya. Dan hanya lelaki bodoh seperti ku yang bisa-bisanya merindukannya. Mungkin andai saat ini ku bertemu dengannya kembali hanya pertanyaan tersebut, satu yang ku ingin dia ucapkan.
Dalan reduh redam lembutnya hujan.
“Lama ga ketemu yah!!!”
Entah bagaimana mengartikannya. Ini permintaan yang pertama dan yang terindah yang dikabulkan sang raja. Ku pandangi lagi paras menawan nan cantik, elok rupawan bagai langit sore tersiram anggur hingga berwarna violet orange yang anggun.
Tidak lama, kami jelajahi lantunan gemercik jarum-jarum hujan yang jatuh lembut di sekitar aroma tubunya, harum, menghanyutkan, nyaman penuh keanggunan. Dalam itu kami berbincang jauh, dalam tiap langkahnya pergi bekerja hingga dimana dia tinggal. Semua tentang dia. Aku?? Pantaslah diam dan penuh pasif. Tidak ada yang menarik yang bisa ku ceritakan kepadanya tentang diriku.
Tidak lama hanya sesingkat kaki melangkah. Dalam langkah pulang menuju istana kardus ku, dalam gemercik jarum hujan yang sudah mulai lelah berjatuhan, aku mengulang lagi semua, dalam detik yang baru saja di telan detik yang lain. Aku mengulang perkataannya dalam lamunan yang dalam. Aku sangat ingat dia bercerita dimana dia tinggal, jalan dalam gang rumahnya hingga warna pagar hijau yang di penuhi tanaman-tanaman menawan. Mawar, dalam semua langkah, dalam sepanjang pembicaraan, mawar mendominasi hal yang dia terjemahkan menjadi keindahan.
Ini minggu ke 8 setelah terakhir ku bertemu dengannya.
Dalam lamunan yang panjang aku bernyanyi dalam kepasrahan. Tidak pantaslah seorang aku merindunya. Aku berteriak dalam diri, “JAUHHHKAAANNNN BAYANGAANNNNYYYAAAA DARRRRIIII KUUUU!!!!!!!”
Aku berada di tempat yang sama ketika pertama dan terakhir aku dan dia bertemu. Dalam gemercik jarum hujan yang sama, dalam riuh redam lembutnya, semua sama. Aku berjalan menuju shelter bis tempat biasa ku mengantarnya disana, tidak kudapati dirinya. Dalam sela-sela para muda-mudi berbincang di tempat pertama kali dia bertanya
“Sudah berapa lama kerja beginian??”
Dalam hati ku yang mulai menguap tidak berdaya. Di atas langkah-langkah kaki kami menuju pembicaraan mawar yang anggun. Hingga plakat yang pernah ku ingat tentang nya.
Semua kosong dalam pencarian. Hingga saat ini aku menanti, aku mencari, aku berharap dalam ketidak berdayaan.

Senin, 26 Desember 2011

mencari tuhan yang hilang


mencari tuhan yang hilang


salam ,

Inilah buku yang aku maksudkan aritu. Mencari Tuhan Yang Hilang. Buku kesayanganku.
Sebuah buku manajemen kalbu (bahasa melayunya buku motivasi la). Tulisan Ustaz Yusuf Mansur. Orangnya sebagaimana yang terpamer pada cover buku tu la. Buku ni bagus. Sebab ia jujur dan tulus. Drai pengalamn esorang yang pernah merasakan gelapnya hidup. Dan kalaupun ada mulut2 yang xpuas hati dengan apa yang disampaikan oleh Ust.Yusuf dalam buku ni, aku teramat9 yakin hati2 mereka sebenarnya membenarkan semuanya. Sebab naluri dan kata hati kita xpernah berbohong dengan diri kita sendiri. Lebih2 lagi pada suatu kebenaran dan kebajikan. Hati tak berbohong, namun andai kata yang terluah di mulut itu berdusta, ia sudah terhasut oleh syaitan. Percayalah, orang yang berbohong slalu sedar yang dia berbohong. Sebab kebenaran itu di hati, dan hati xberdusta.
eh…berfalsafah plak. oh ye…buku ni bahasa indonesia. Ustaz ni pun ada web sendiri, web wisata hati. http://wisatahati.com kalau xsilap.
Apa bagusnya buku ni? Buku ni bagus sebab buku ni bawa aku kembali pada Pencipta kita. Pada Tuhan kita. Buat kita sedar, walau pe masalah yang kita alami, lalui, rasai…kita masih ada Tuhan kita. Lalu…apa yang kita perlu buat, hanya kembali pada DIA. Slalu kita x sedar, setiap masalah @ kesempitan @ kesedihan yang kita alami, lalui, rasai…sebenarnya berpunca dari diri kita sendiri. Drai kekerdilan, kebodohan, kesombongan kita sendiri. Buku ni mengajak kita mengkoreksi diri kita sendiri.
Tapi…kalau anda rasa anda sudah cukup hebat, hidup anda tenang dan bahgia…cukup mewah, atau anda rasa Tuhan tu xperlu bagi anda. Aku rasa xpayah la susah2 baca. he. Tapi, ada baiknya jugak kalau cuba baca, supaya kita sedar…kita ini sebenarnya xpunya apa2…kita hanyalah seorang hamba. Hamba yang slalu berharap pada ehsan dan belas dari-NYA.
Buku ni juga boleh jadi penguat semangat, menyedarkan kita bahwa ALLAH itu amat dekat dan slalu ada untuk menolong kita.
Yang paling aku suka…disetiap penghujung bab dalam buku ni, Ustat Yusuf menyelitkan doa2 yang buat hati aku tersentuh.

Minggu, 27 November 2011

Buat Sahabat

Kala…
Raga gontai  langkah tertatih
Angan kosong mimpi menepi
Kau ada…memapah rapuh langkah kaki
Menyapa niscaya menyambut pagi
Kala…
Beban bimbang menyesak dada
Hingga kata-kata yang ada tak mampu bersuara
Kau ada…mengalirkan do’a- do’a
Mengurai bahasa maknai kata-kata
Kala…
Duka menyapa kalbu
Air mata menetes hampa
Kau ada…menghapus nestapaku
Mengalun senandung nada
Hangati  jiwa…dengan senyumu
Kala…
Bahagia menjelma dalam duka
Hati tertawa… semarak canda
Kau pun ada…berbagi suka
Membawa asa menggapai cita
Menyapa teduh penuh pesona
Kala…
Akan ku sandarkan  letih saat ku rapuh
Akan ku nanti saat ku sepi
Akan ku nikmati ceria bersama saat bahagia 
Akan kusimpan dan jaga di sudut hati yg lain (andai saja ada)

Senin, 14 November 2011

AKU DAN KESENDIRIAN

ketika aku sendiri aku bersandar pada keterbatasan...
ketika aku termenung dalam dilema aku butuh cahaya...
saat sepiku ku duduk terpojok dalam sudut kesendirian...
aku hanya bisa menatap dalam gelap saat semua menjauh,
saat semua rapuh,
saat semua runtuh...
adakah jalan tuk keluar dari semua ini???
akankah ku bisa berpijak pada jejak-jejak yang menapak???
mungkinkah ku bisa berjalan tanpa tertatih???
semua tanya jawabnya hanya satu, apakah aku???
otakku enggan berpikir saat semua terasa sempit,
saat semua terasa menghimpit dalam kesendirian ku terjepit...
ku hanya butuh secercah harapan dari titik-titik cahaya kesendirian agar ku bisa melangkah dalam kebebasan walu dalam kesederhanaan...
sendiri ku berharap, sendiri ku menatap, dalam celah-celah mimpi yang sunyi tanpa ku dan kesendirian...
semua anganku ku jadikan satu dan ku gubah jadi satu kalimat bernama"ku ingin harapanku hidup tuk kedua kali"....